Jumat, 06 Oktober 2017

Cobain Wedang Uwuh Ini, Sehat dengan Herbal , Citarasa Tradisional !

Sumber gambar : http://ronagaya.com/secang-rempah-pemerah-minuman/


Hallo teman-teman. Udah lama banget ya belum nulis lagi. Sekarang pengin ngobrol dikit nih tentang minuman yang satu ini. Pernah dengar atau pernah minum ? "Wedang uwuh" namanya ! Duh, kok kedengerannya aneh ya. Baiklah, ini dia penjelasannya.

Wedang uwuh menjadi salah satu minuman khas Jogjakarta, khususnya di daerah Imogiri. Mengapa disebut wedang uwuh ? Wedang artinya minuman , sedangkan uwuh artinya sampah. Lho kok bisa ? Soalnya bahan-bahan yang digunakan untuk membuat wedang uwuh berasal dari berbagai rempah - rempah dan dedaunan atau istilah jawanya bisa disebut empon-empon. Jadi, sekilas kamu akan melihat wedang uwuh seperti kumpulan sampah dedaunan dalam segelas air hehe. Bahan-bahan tersebut diantaranya adalah kayu secang, jahe, cengkeh, daun serai, daun salam, dan beberapa bahan tambahan lainnya. Uniknya, minuman ini memiliki warna merah yang sangat cantik. Warna merah ini berasal dari rebusan kayu secang. Kayu secang merupakan salah satu pewarna alami yang telah digunakan sejak lama lho !! Sebagai pemanis, bisa diberi gula batu atau gula jawa. Aroma wedang pun khas yaitu aroma jahe, serai, dan rempah-rempah lain bercampur menjadi satu.Wedang uwuh sangat cocok disajikan dalam keadaan panas atau hangat ya gaes.. :)

Manfaatnya sudah tidak diragukan lagi. Selain bisa menghangatkan badan, perpaduan bahan-bahan tersebut, terutama kayu secang kaya akan zat antioksidan yang bermanfaat menangkal radikal bebas. Setelah meminum wedang uwuh, pastinya kamu juga akan merasa lebih rileks lho !

Nah tapi kalau kamu ingin membuat wedang uwuh , sekarang tidak perlu repot-repot. Di pasar-pasar tradisional daerah Jogja, banyak penjual jamu yang sudah menyediakan wedang uwuh dalam bentuk kemasan siap seduh. Bahkan beberapa supermarket juga sudah ada yang menjualnya loh.

Itu dia sekilas cerita tentang wedang uwuh. Eh tapi selain wedang uwuh , banyak juga lho minuman tradisional lain yang bermanfaat untuk kesehatan badanmu. Yuk kita intip artikel berikut :


(like dan komen sangat diperbolehkan :)

Sampai jumpa di informasi terkini selanjutnya...!! 

Senin, 13 Februari 2017

AADC di Thailand (Ada Apa Dengan Chao Phraya)

Wat Arun dan Chao Phraya River (doc pribadi)

        Matahari sudah semakin tinggi. Panasnya kota Bangkok selalu menemani langkah kami sepanjang perjalanan. Seorang kakak yang selalu setia mengajak kami untuk menikmati keindahan lain dari Bangkok. Dari kejauhan sudah terlihat gelombang air berwarna coklat dan beberapa boat yang berlalu lalang. Chao Phraya River. Nama ini sudah sangat melekat di hati para masyarakat Bangkok.  Chao Phraya telah banyak berjasa selama ratusan tahun dalam mendukung kehidupan dan perekonomian masyarakat Thailand. Sungai Chao Phraya tidak hanya digunakan untuk irigasi dan penampungan air, tetapi juga sebagai alat transportasi. Tidak perlu menunggu terlalu lama, kami mengantri menuju loket pembelian tiket penyeberangan. Untuk satu kali penyeberangan cukup membayar seharga 3-5 baht per orang. Sungai Chao Phraya bisa dibilang memiliki gelombang yang cukup besar. Baru berada dipinggir dermaga, papan yang menghubungkan tepi sungai dengan kapal mulai bergoyang-goyang. Tidak lama kemudian, jangkar mulai dilepas dan mesin berbunyi semakin keras. Kapal yang membawa kami mulai membelah sungai Chao Phraya !. Dari kejauhan , nampak kemegahan stupa Wat Arun yang seolah-olah mengatakan kepada kami “Hai, inilah salah satu keindahan dari Bangkok !”  Kalau malam hari atau senja pasti suasananya akan lebih indah karena Wat Arun akan memancarkan cahaya keemasannya, Suoi ! Untuk menyeberang sungai kira-kira membutuhkan waktu sekitar 15 menit tergantung tempat mana yang akan dituju. Jadi kapal-kapal di sana juga semacam ada jalurnya tersendiri. Sesampainya di seberang sungai, kami sempat berkeliling sejenak. Di seberang sungai ternyata banyak pasar yang menjual cinderamata khas Thailand. Oiya khusus jika teman-teman akan berbelanja oleh-oleh di Wat Arun, penjual-penjual di sini mau menerima mata uang rupiah lho. Beberapa orang juga bisa berbahasa Indonesia J. Wah jadi terharu.

        Melihat kenyataan tentang Sungai Chao Phraya , sejenak jadi berpikir, “coba kalau di Indonesia banyak sungai yang bisa dimanfaatkan sebagai transportasi, terutama di daerah terpencil, pasti perekonomian akan semakin berkembang pesat". Mungkin beberapa contohnya sudah ada seperti di Kalimantan misalnya, perahu ketinting sudah menjadi transportasi favorit para warga. Di daerah sungai Citanduy, perbatasan antara Jawa Barat dan Jawa Tengah, sungai juga digunakan sebagai jalan alternatif antar desa, karena jika menempuh penyeberangan melalui jembatan akan memakan waktu yang lebih lama. Sayangnya segi safety-nya masih kurang. Perahu yang digunakan masih berupa rakit yang ditarik menggunakan tali tambang yang dibentangkan di antara dua bibir sungai yang berseberangan. Tapi jadi asik-asik gimana gitu pas naik rakitnya J.

        Masih di tepi sungai Chao Phraya. ...


       Setelah cukup puas, kami memutuskan untuk kembali lagi menuju kompleks Wat Arun. Ketika di pinggir dermaga, tidak sengaja di belakang kami terdengar suara “Assalamu’alaikum”. Ketika saya dan seorang teman menoleh ternyata seorang lelaki paruh baya berpostur tinggi, berwajah India-Arab, berbaju koko lengkap dengan peci berdiri menyapa kami. “Wa’alaikumsalam” jawab kami. Kami mulai sedikit percakapan dengan beliau. “Where are you come from ?” tanya kami. “Burma” jawab beliau. Kalau tidak salah beliau sebenarnya adalah orang Urdu, Pakistan. Beliau tengah dalam perjalanan untuk mencari mushola karena waktu sholat Jum’at akan segera dimulai. Meskipun kami tidak mengenal, saya benar-benar merasakan bahwa “Sesungguhnya mukmin itu bersaudara” (Surat al-Hujurat :10). Sayangnya saya tidak bisa menanyakan banyak hal lebih jauh lagi dengan beliau karena kapal penyeberangan akan segera berangkat. Sampai jumpa lagi Pak, semoga keberkahan selalu menyertai langkah Bapak J

Mr. Burma (doc. pribadi)


Lalu Ada Apa Dengan Chao Phraya ? J
Chao Phraya tak hanya menunjukkan keindahan dan keanggunannya. Ia juga memberikan banyak pelajaran bahwa  “Sebaik-baik kamu adalah yang memberi banyak manfaat bagi orang lain”
        

Jumat, 10 Februari 2017

24 Jam Lebih Dekat dengan Masyarakat Lanna-Thai


Malam itu mobil yang kami tumpangi langsung menuju ke arah kota Chiang Mai. Perjalanan dari Bangkok ke kota chiang Mai kurang lebih menghabiskan waktu 10-12 jam menggunakan mobil.  Pertama kali menginjakkan kaki di Bangkok, highway  terlihat bersliweran di mana-mana. Ya tidak jauh berbeda dibandingkan Jakarta. Hanya saja yang patut diacungi jempol, jalan raya (mungkin bisa dibilang jalan antar provinsi) dari ujung selatan hingga utara bisa dibilang mulus layaknya jalan tol. Sepanjang jalan masih banyak lahan-lahan rerumputan kosong. Tapi anehnya juga di beberapa jalan terdapat beberapa kantor atau bangunan pabrik. Sebenarnya saya belum cari tahu juga sih bagaimana. Jika dibandingkan dengan di Indonesia, bangunan pabrik atau industri biasanya berada di tempat yang strategis dan berada di kawasan industri (yang seharusnya tidak terlalu dekat dengan pemukiman penduduk). Akan tetapi ada bangunan industri juga yang berada di tengah-tengah lahan/sawah dan belum ada bangunan lain di sekitarnya (sepi juga ya).

Semakin menjauh dari kota Bangkok, hawa sejuk dan dingin mulai terasa. Chiang Mai berada di Thailand bagian utara, hampir berbatasan dengan negara tetangga yaitu Myanmar. Mungkin karena pengaruh letak geografis, udara di Chaing Mai juga terasa lebih sejuk dibandingkan dengan wilayah Thailand bagian selatan seperti Bangkok yang panasnya hampir sama seperti Jakarta J.  Iklim di Thailand sendiri ternyata ada 3 macam yaitu musim panas, musim dingin, dan musim hujan J. Di periode tertentu di beberapa tempat di Chiang Mai , jika Anda beruntung Anda bisa melihat kecantikan cherry blossom. Cherry blossom juga ada di negeri Gajah Putih lho !

Tidak jauh dari kota Chiang Mai, kami menuju sebuah perkampungan yang bernama Ban Luang Nuea (Ban artinya rumah). Kami disambut oleh community tersebut kemudian diajak menuju salah satu bangunan. Bangunan tersebut adalah gambaran rumah tradisional Thailand. Mereka lengkap menggunakan baju khas dan penutup kepala berwarna putih. Sesepuh di community tersebut kemudian menyambut kami dengan upacara mini dan penyematan gelang yang disertai dengan do’a-do’a.
Bracelet and Lee-la-wa-dee / ลีลาวดี (kamboja)

Kami dibagi menjadi beberapa homestay. Kebetulan saya dan beberapa teman mendapat homestay milik Lung Ai. Beliau terlihat sangat humble dan ramah. Kami diajak berkeliling kebun dan melihat lingkungan sekitar. Tidak jauh dari rumah Lung Ai juga terdapat loco market. Uniknya dari info Phi Bo, Loco market hanya buka setiap Rabu siang atau sore.  Malam hari kami makan malam bersama host family. Rumah Lung Ai ini cukup unik. Di bagian kamar mandi masih terdapat wadah air yang terbuat dari kayu. It’s traditional style. Dapur di rumah Lung Ai juga masih berupa bangunan kayu yang ditata rapi dan cantik. Hampir sebagian besar rumah di Thai Lanna berupa rumah panggung seperti rumah adat daerah Sumatera. Kalau dari penjelasan Phi,  bentuk rumah tersebut juga bisa bermanfaat untuk menghindari serangan binatang buas dan banjir (mungkin ini di zaman dahulu). Tapi jika dilihat saat ini model  bangunan berupa rumah panggung sangat bermanfaat untuk dijadikan gudang penyimpanan perkakas atau barang lainnya. Kembali ke suasana malam hari bersama host family. Kami berbagi makanan dan cerita dengan Lung Ai sebagai host family. Namun  jangan dikira semua host family bisa berbahasa inggris. Bahkan mendapat homestay yang paham makna eat , drink, toilet,  atau sleep saja sudah bersyukur (hehe karena itu kebutuhan pokok sehari-hari). The power of kepepet nya adalah bahasa isyarat. Kami menanyakan beberapa istilah benda dalam bahasa Thailand juga sambil menggunakan bahasa isyarat. Hihi lucu juga ya.  

Salah satu model rumah di Ban Luang Nuea (dokumen pribadi)


Dapur cantik dan tradisional (dokumen pribadi)

         Suasana pedesaan di Thailand mungkin tidak jauh berbeda dibandingkan dengan suasana pedesaan di Indonesia. Kebetulan di kampung tersebut masih banyak sawah, kebun, dan peternakan yang cukup luas. Dari cerita Phi Bo, Raja Thailand memiliki salah satu teori yang disebut sufficient (yang berarti cukup). Dari ajaran tersebut, penerapannya salah satunya dalam memanfaatkan tanah tempat tinggal. Tanah tempat tinggal sebaiknya dibagi untuk beberapa fungsi diantaranya tanah untuk mendirikan bangunan, tanah untuk beternak, tanah untuk bercocok tanam, dan tanah untuk menampung atau menyimpan air. Di tempat menyimpan air, mereka juga bisa sambil memelihara ikan atau hewan lain yang bermanfaat. Yah memang tidak jauh beda dengan negara kita. Hanya saja yang membuat kagum adalah masyarakat di sana paham betul dasar dari hal mereka lakukan, salah satunya karena memang saran dari Sang Raja. Organic farming juga sudah diterapkan dibeberapa tempat. Salah satu contohnya yaitu pemanfaatan tanaman untuk pengganti insektisida dari bahan kimia. Ada banyak tanaman yang dimanfaatkan, contohnya seperti lemon grass, basil (kemangi), dan tanaman cabai. Kalau dilihat dari kandungannya memang tanaman-tanaman tersebut banyak mengandung minyak atsiri yang biasanya bermanfaat sebagai insektisida alami (jadi teringat mata kuliah kimia produk alam hehe).

Good Morning from Thai Rice Field :)  

     Keesokan harinya kami diajak memasak beberapa hidangan untuk sarapan. Kami membuat semacam tumis ayam dan jamur kuping. Rempah-rempah yang digunakan sebenarnya mirip dengan yang ada di Indonesia. Hanya saja bawang bombay dan jahe melimpah ruah. Dalam hidangan mereka juga biasa menambahkan cairan semacam kecap ikan atau campuran kaldu. Tidak lupa motto juga digunakan untuk menambah rasa sedap. Yang membuat kaget , ternyata mereka menyebut vetsin dengan istilah “motto” juga :D. Selain makanan besar, kami juga disuguhi cemilan atau jajanan. Mungkin karena masih di Asia Tenggara, beberapa jajanan dan hidangan ada yang mirip dengan makanan di Indonesia. Sebut saja kolak, onde-onde atau roti goreng, semacam lemper, es tebu, dan masih banyak lainnya. Hanya saja saya belum dapat kesempatan makan Tom Yum di negara asalnya langsung nih. But, nope, masih ada Tom Fat Khai (Tom Fat Khai adalah makanan sejenis sup ayam. Tom dalam bahasa Thailand artinya sup) yang tak kalah sedapnya J.

Tom Fat Khai, lengkap dengan saus asamnya, (dokumen pribadi)

         Masyarakat di Ban Luang Nuea ternyata bisa dibilang sudah cukup mandiri dan memiliki jiwa entrepreneurship. Kami diajak mengunjungi salah satu pusat kerajinan wooden doll dan sempat belajar berkreasi di ban wooden doll (boneka kayu). Eits tapi bukan pinokio yang akan dibuat ya. Pak pemilik wooden doll banyak membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat di sekitarnya. Dan yang patut diacungi jempol, beliau adalah lulusan dari fakultas seni di salah satu universitas di Chiang Mai. Jadi keahlian yang beliau punya sangat terasa manfaatnya bagi masyarakat sekitar. Jika dibandingkan dengan background beliau, pendidikan, penelitian, dan pengabdiannya sangat nyata untuk masyarakat sekitar. Mungkin kalau banyak lulusan sarjana yang kreatif seperti beliau, menjadi entrepreneurship yang tetap berorientasi pada kepentingan social maka negara akan makmur. Sebab menurut studi, hampir sebagian negara maju memiliki jumlah entrepreneur yang cukup banyak. Penerapan sociopreneurship di beberapa negara maju meningkatkan kesempatan kerja secara signifikan. Di Amerika, jumlah tenaga kerja yang bekerja di sektor ini mencapai 6,8 %, Prancis 4,2 %, dan Jerman 3,7 % (OECD, 1998, p.114). Indonesia ? Di tahun 2007, baru ada sekitar 0,18 % masyarakat Indonesia yang berkarya sebagai entrepreneur.  Namun tidak semua entrepreneur adalah sociopreneur. Untuk penjelasan lebih lengkap mengenai sociopreneurship teman-teman bisa membacanya di link berikut  http://adina-twins.blogspot.co.id/2015/10/social-entrepreneur-agen-of-social.html.

Owner of Wooden Doll  (dokumen pribadi)

        Tidak jauh dari Ban Wooden doll, kami juga belajar membuat handycraft lain. Uniknya kerajinan ini terbuat dari tanaman mulberry yang diproses, diolah dengan pengeringan dan bantuan mesin sehingga diperoleh bahan semacam bubur kertas. Bubur kertas ini yang digunakan sebagai bahan dasar mulberry paper artwork.  Ketika mendengar mulberry saya jadi teringat salah satu tempat di daerah kota kelahiran saya. Di sana terdapat daerah yang dipenuhi kebun tanaman mulberry untuk budidaya ulat sutera. Daun mulberry menjadi santapan lezat bagi ulat sutera (silkworm). Kepompong ulat sutera digunakan sebagai bahan dasar untuk benang dan kain sutera yang harganya bisa berlipat-lipat dibanding kain jenis lain. Di Ban Luang Nuea, tanaman mulberry juga dimanfaatkan untuk membuat salah satu jenis artwork  paper. Satu lagi sociopreneur mulberry paper membuat desa ini termasuk makmur dan mandiri. Tak heran jika community di Ban Luang Nuea merupakan salah satu CBT (Community Based on Tourism) yang cukup mandiri.

Contoh proses pengeringan mulberry paper artwork (dokumen pribadi)

            Selain mengenal dua tempat di atas, kami juga mencicipi salah satu makanan tradisional yang bernama khao khaep. Mungkin bisa dibilang seperti bubur sumsum  tipis yang bertabur wijen hitam. Makanan ini biasa dikonsumsi sebagai cemilan, dapat dimakan dalam kondisi basah ataupun yang sudah kering sepeti krupuk. Pembuatannya pun bisa dibilang masih tradisional, yakni menggunakan pawon yang berasap dan panas haha. Adonan diratakan melingkar menjadi tipis kemudian ditunggu mengering dan diangkat. Mungkin lebih tepatnya seperti membuat kue lekker. Setelah diangkat kami pun langsung berebut mencicipi jajanan tersebut. ARROY MAK !!

     Pembuatan Khaow khaep (dokumen pribadi)

Hmm baru sekitar 24 jam berada di Ban Luang Nuea, sudah banyak kesan dan pelajaran yang bisa diambil. Sebenarnya masih banyak yang ingin diceritakan. Ban Luang Nuea dan Chiang Mai bukan hanya menawarkan keindahan alam dan budaya, tapi orang-orang yang ada  di sana menjadi salah satu daya tarik tersendiri mengapa kami ingin mengenal mereka. Salam hangat dari Indonesia untuk Lanna Thai !

                

Selasa, 07 Februari 2017

Putri Malu ( Yaa Pan Yot), biarpun malu-malu tapi ......

Yaa Pan Yot di Thai-Lanna (dokumen pribadi)

Setelah kemarin bercerita sedikit tentang negara tetangga, postingan saya kali ini ngga jauh-jauh sama pengobatan dan kesehatan.
Singkat cerita, ketika sedang berada di sebuah lahan atau lebih tepatnya sawah, kami melewati banyak tanaman putri malu. Phi Bo, loco guide yang selalu setia menemani kami mengatakan bahwa di daerah tersebut, konon masyarakat setempat ada yang suka menggunakan tanaman putri  malu untuk mengobati sakit perut. Mendengar penjelasan tersebut, saya jadi penasaran nih.  Mungkin yang akan saya jelaskan belum tentu 100 % benar, tapi saya akan mencoba melihat dari sisi ilmiah dan ethnomedicine-nya  J.. So.. check it out..
(read : ethnomedicine mempelajari sistem pengobatan atau pengobatan tradisional yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat tertentu di wilayah tertentu)
Putri malu meiliki nama latin Mimosa pudica. Tanaman ini banyak ditemukan di kebun dan lahan atau rerumputan. Di Thailand, putri malu katanya popular sebagai antiinflamasi.  Orang Thai biasa menyebutnya yaa pan yot. Penggunaan putri malu sebagai tanaman obat ternyata tidak hanya di Thailand.  Beberapa generasi dari mayarakat Thai-Lanna atau Thailand Utara juga menggunakan putri malu sebagai obat diabetes mellitus. Di kepulauan Fiji, masyarakat biasa menggunakan untuk mengatasi demam, insomnia, gigitan serangga. Dalam pengobatan Aryuveda, India, putri malu digunakan untuk mengatasi penyakit yang berhubungan dengan darah, empedu, dan  demam. Meskipun sudah banyak digunakan di masyarakat sebagai ethnomedicine akan tetapi sumber ilmiah mengenai pembuktian manfaat tanaman putri malu belum banyak dilakukan. Namun salah satu manfaat putri  malu sebagai antidiabetes ternyata terbukti secara ilmiah. Manosroi, dkk.  (2011) melakukan pengujian ekstrak  putri malu terhadap mencit. Penurunan glukosa darah puasa secara signifikan yaitu pada waktu 3 jam – 4 jam setelah konsumsi ekstrak putri malu dengan dosis 200 mg/kg BB. Tapi kalau dosis ini akan dikonversi ke manusia  lumayan banyak juga ya. Berarti untuk pasien dengan berat misalkan 50 kg maka memerlukan ekstrak putri malu sebanyak 10 gram ekstrak. Padahal obat-obatan seperti tablet atau kapsul biasanya berbobot  sekitar 50-600 an mg dengan kandungan zat aktif bisa bervariasi dari 5 mg-500 mg.  Kalau mau dijadikan obat banyak juga ya J. Berbicara mengenai kandungan putri malu diantaranya adalah senyawa berupa  glikosida, tannin, dan alkaloid. Namun penjelasan mengenai bagaimana putri malu dapat menurunkan glukosa darah masih belum diketahui secara pasti.
Nggak percaya kan putri malu yang biasanya kita jahilin di lapangan rumput ternyata ada manfaatnya juga.
               
Referensi
J., Manosroi, ZZ., Mosses, W., Manosroi., A., Manosroi, 2011, Hypoglicemic activity of Thai Medicinal Plants Selected From the Thai/Lanna Medicinal Recipe Database Manosroi II, J. Ethnopharmacol, 138 (1) : 92-98.

Lim., T.K. Edible Medicinal and Non Medicinal Plants, Vol 7, Flowers, Springers.

Mitra, Robin., dkk.,2007,  Medicinal Plants of Thailand, APBN, Vol 11 (8) : 508-518

Panthong, A., Kanjanapothi, D. and Taylor, W.C., , 1986, Ethnobotanical review of medicinal  plants from Thai Traditional books Part I : Plants with anti-inflammatory, anti-asmathic, and antihypertensive properties,  Journal of Ethnopharmacology,  18 : 213 – 228.



Senin, 06 Februari 2017

Pesona Culture and Nature The Old City, Chiang Mai

        Beberapa waktu lalu kebetulan dapat kesempatan mengunjungi salah satu  negara cantik di ASEAN melalui sebuah event menarik #iyce. Kata orang si negara ini menjadi salah satu tujuan favorit pelancong selain 2 negara tetangga Indonesia yaitu Singapura dan Malaysia. Benarkah ?
          Pertama kali ketika mendengar negara ini yang terbayang adalah deretan kuil, pagoda, dan pastinya biksu-biksu atau monks yang berlalu lalang dimana-mana. Benar saja, baru menapakkan kaki beberapa hari, atap-atap emas kuil-kuil mulai terlihat. Kalau diibaratkan seperti di Indonesia, Arab Saudi, atau negara dengan penduduk mayoritas Islam lainnya, kuil ini banyak ditemukan layaknya masjid atau mushola yang tersebar dimana-mana.  Mungkin teman-teman sudah bisa memperkirakan ya , dimanakah itu ? Ya , Thailand ! The Land of Smile.
Bagi para turis, Bangkok, Pattaya, dan beberapa kota wisata lain mungkin sudah tak asing lagi akan pesonanya. Bangkok yang terkenal metropolisnya. Pattaya yang terkenal akan surga tersembunyinya. Namun kali ini saya ingin bercerita sedikit mengenai salah satu wilayah di Thailand dengan pesona dan keunikan yang tak kalah menarik.


Letaknya berada di Northern Thailand atau Thailand bagian utara.  Kalau lihat di peta ASEAN mungkin sudah hampir dekat dengan Myanmar.. Waw.. Orang menyebutnya kota ini Chiang Mai. Kesan pertama saat melihat kota Chiang Mai adalah bersih, asri, cantik, nyaman, dan tidak terlalu crowded. Mungkin salah satunya juga dipengaruhi oleh letak geografisnya sehingga iklim dan udara di Chiang Mai terasa lebih sejuk dibandingkan dengan iklim dan udara di Thailand bagian selatan seperti Bangkok misalnya. Ketika pertama kali melihat-lihat Chiang Mai, rasanya seperti berada di salah satu kota istimewa di Indonesia. Yogyakarta J. Chiang Mai memiliki beberapa bangunan dan spot-spot yang masih memegang teguh kebudayaan dan kepercayaan. Banyak juga beberapa Kuil atau dalam bahasa Thailand disebut “Wat” yang sudah berdiri lebih dari 500 tahun dan sampai sekarang masih dimakmurkan baik untuk ibadah maupun sebagai salah satu tujuan wisata budaya. Hampir semua msyarakat Thailand, khususnya Chiang Mai sangat mengagungkan Sang Raja sebagai pemimpinnya. Bahkan ada anggapan bahwa Sang Raja adalah titisan sang Budha.  

                                              
Wat Chiang Man-dokumen pribadi

Kalau dilihat sejarah dan kebudayaannya, masyarakat Thailand bagian Utara ini ternyata menarik juga. Meskipun berada di Wilayah Thailand, beberapa kuil ternyata ada yang merupakan Kuil Myanmar, maksudnya orang-orang yang beribadah di Wat tersebut adalah bukan orang Thai-Lee. Oiya disini orang menyebut masyarakat Thailand Utara sebagai Thai-Lee. Antara Thailand Utara dan Thailand selatan juga terdapat beberapa perbedaan diantaranya adalah dialek yang bebeda. If you often hear sawadee-kha. That’s Thailand greeting in general or in Southern Thailand. But in Northern Thailand, people often say yu-di kin wan for greeting J. That’s one of the example.


salah satu sudut kota Chiang Mai-dokumen pribadi

Kota Chiang Mai dulunya merupakan ibu kota kerajaan Lanna, didirikan pada tahun 1296. Raja Mengrai, pendiri kota ini menata kota dengan beberapa tembok batu bata dan kanal-kanal untuk transportasi. Konon, dulu tembok ini dibangun untuk menahan serangan dari tentara Burma.   Sampai sekarang tembok bersejarah tersebut masih cantik dan kokoh berdiri di sudut-sudut kota Chiang Mai. Kanal-kanal pun sangat dijaga kebersihannya dan sepanjang kanal hampir tidak terlihat sampah yang menyumbat ataupun mengapung-apung. Suoi !! Sungguh kota Chiang Mai terlihat begitu tertata rapi dan cantik. Berdasarkan info warga setempat, beberapa tradisi sakral juga masih dipertahankan, diantaranya jika ada pemimpin yang baru dilantik maka pemimpin / gubernur tersebut diarak dengan upacara tertentu untuk memasuki salah satu gerbang utama kota Chiang Mai. Chiang Mai juga dihiasi dengan atap-atap keemasan dari kuil yang cantik. Salah satu kuil termegah di kota ini yaitu Wat Phratat Doi Suthep letaknya di atas bukit. Konon masyarakat tersebut mempercayai bahwa dengan adanya kuil tersebut di atas merupakan simbol keagungan sang Budha. Dari kawasan kuil ini kita juga bisa melihat keindahan kota Chiang Mai dari atas awan J

                           
tembok bersejarah di Chiang Mai - dokumen pribadi

Chiang Mai memberi gambaran sebuah kota dengan kebudayaan dan peradaban yang masih lestari hingga kini. Konon salah satu kuncinya adalah kesetiaan dan kepercayaan masyarakat yang begitu kuat pada pemimpinnya.  Beberapa kota di Indonesia sebenarnya masih ada yang yang memiliki kemiripan dengan Chiang Mai. Hanya saja untuk masalah kebersihan dan sistem terkadang masyarakat kita masih kalah dari beberapa negara lain (meskipun tidak semua sih). Tiap tempat pasti punya peradaban dan ciri khas tersendiri, layaknya Chiang Mai, Thailand, Indonesia juga menyimpan pesona dan peradaban yang beraneka ragam dari Sabang sampai Merauke.
Semoga suatu saat bisa mendapat kesempatan mengenal dan mengabdi untuk Indonesia lebih dekat lagi.


Sumber :
Wikipedia
Observasi pribadi :)
Wawancara dengan penduduk lokal dan guide

Minggu, 27 November 2016

Bandung dan Konperensi Asia Afrika

Konferensi Asia Afrika, tahun 1955. Mungkin teman-teman udah sering denger sejarah atau pernah belajar sejarahnya ketika sekolah ya ? Ngomong-ngomong tentang KAA , Indonesia kala itu menjadi sorotan dunia, lebih tepatnya kota Bandung. Bagaimana bisa ? Sebanyak perwakilan dari 29 negara di benua Asia dan Afrika hadir dalam sebuah konferensi yang menjadi catatan penting bagi warga dunia. 

dok pribadi

Sejarah singkat
Setelah Perang Dunia II (Agustus 1945) berakhir, situasi di dunia masih memanas. Selain Perang Dunia II, dunia juga masih dibayang-bayangi oleh perang dingin antara Blok Barat dan Blok Timur. Selain itu masih banyak juga penjajahan di negara-negara Asia Afrika. Singkat cerita, atas dasar itulah digelar sebuah konferensi pada April 1955. Bertempat di Gedung Merdeka, sebanyak 29 perwakilan negara-negara di Asia dan Afrika mengikuti konferensi ini. Hasil dari Konferensi Asia Afrika dikenal dengan istilah "Dasasila Bandung". Dasasila ini menjadi pedoman bagi bangsa-bangsa Asia dan Afrika dalam menjalin solidaritas dan kerjasama internasional. Wah hebat ya !!

Museum Konperensi Asia Afrika
Bung Karno pernah mengatakan : Jangan sekali-sekali melupakan sejarah. Konferensi Asia Afrika menjadi salah satu sejarah penting tidak hanya di Indonesia tapi juga bagi warga dunia khususnya bangsa Asia-Afrika. Untuk mengabadikan sejarah tersebut, Museum Konperensi Asia Afrika diresmikan pada tanggal 24 April 1980 dalam puncak acara Peringatan 25 tahun Konperensi Asia Afrika. Hingga kini semua warga dunia bisa melihat bagaimana sejarahnya Konferensi Asia Afrika tahun 1955.

Akses ke Museum KAA
Museum KAA terletak di Jalan Asia Afrika. Lokasi ini sangat strategis karena terletak di pusat kota, berdekatan dengan Masjid Raya Bandung dan Alun-alun Kota. Untuk masuk ke museum ini juga tidak dikenakan biaya apapun :). Lalu, kapan saja kita bisa berkunjung ? Ini dia jadwal kunjungannya
Selasa-Kamis : 08.00-16.00
Jumat              : 14.00-16.00
Sabtu-Minggu : 09.00-16.00
Senin & hari libur nasional : TUTUP hehe

Untuk menuju museum KAA, kita bisa naik angkot dari Stasiun Hall. Dari Stasiun Hall (Stasiun Bandung) naik angkutan umum jurusan St. Hall-Gedebage, lalu turun di perempatan Jalan Braga -Naripan. Tidak jauh dari situ, kita perlu berjalan sekitar 100 meter ke arah Jalan Braga, kemudian menuju Jalan Konferensi Asia Afrika. Ada satu hal unik di sepanjang jalan KAA. Ada banyak batu-batu bulat di sepanjang trotoar yang bertuliskan negara-negara yang menghadiri Konferensi Asia Afrika. Wah unik sekali. Desain dan tata kota di jalan ini juga rapi dan menarik. Apalagi kalau malam hari, lampu-lampu akan semakin mempercantik kawasan ini. 

Di dalam museum, kita bisa menemukan banyak display dan koleksi yang menceritakan sejarah KAA. Ada juga sebuah aula/hall yang sangat menarik seakan-akan kita sedang ikut duduk untuk mengikuti konferensi Asia Afrika. Kedai cinderamata juga tersedia di sini. Ada beberapa oleh-oleh khas KAA yang unik dan bisa kamu dapatkan di sana. 

Ada hal yang menarik dari museum ini. Museum ini officially bernama Konperensi Asia Afrika. Hmm kenapa ya? Kenapa tidak diberi nama "Konferensi", menggunakan huruf "f" ? Hehehe


Sabtu, 26 November 2016